Arisman File

Sunday, November 27, 2005

Mengalahkan Diri Sendiri




Dalam hidup ini, bahagia tidaknya kita, kita sendiri yang akan menentukan.
Hanya karena kebodohan, kita dibayangi oleh rasa kekhawatiran dan rasa takut
yang sebenarnya tidak perlu ada.

Berhati lurus adalah menjaga hati dan pikiran agar tidak mudah
goyah oleh godaan. Bagi yang berkepribadian lemah dan berjiwa
rapuh akan mudah tergoda pada kesenangan duniawi. Mata kita
hanya melihat benda-benda yang indah, telinga kita hanya akan
mendengar suara yang merdu, dan lidah hanya mau mencicipi
makanan yang lezat. Tubuh menjadi manja, dan pikiran mengembara

ke mana-mana tanpa dapat dikendalikan.

Orang bijak mengatakan bahwa perang yang tidak ada habisnya
adalah perang melawan diri sendiri. Musuh yang paling sulit
ditaklukkan adalah diri sendiri.

Hati yang bercabang ibarat kuda yang lepas dari kendali.
Karena itu kita harus menjaga keseimbangan hati dan pikiran
kita. Hindari pikiran yang menyesatkan, karena nantinya akan
menimbulkan malapetaka bagi diri sendiri.

Bila kita ingin menuai benih kebahagiaan, taburlah benih
kebaikan. Kita mulai dengan menanam bibit-bibit kebaikan,
mencabut rumput-rumput ketamakan, kebencian, iri hati,
mengairinya dengan ketabahan dan kemurahan hati, serta
menyuburkannya dengan memberi pupuk perilaku yang berbudi.

Dengan begitu, sudah sepantasnya kita menikmati hasil panen yang memuaskan.

Niat




NIAT itu punya kekuatan luar biasa. Jika niat itu lurus, sering membuahkan di luar dugaan. Sebaliknya, niat yang ragu-ragu acap berujung jeblok. Atau, kalaupun dipaksakan, sering berakhir dengan nggedumel di hati, dan menyalahkan orang lain.

Akibatnya, wajah ditekuk hingga manyun. Jika diingatkan bahwa cemberut itu tak sedap dipandang, jawabannya malah sengak: "Biarin, wajah-wajahku sendiri, marah-marahku sendiri." Lho, tambah umur, kok, kembali jadi kanak-kanak.

Bekerja, bertetangga, dan berteman pun tak lepas dari niat. Niat untuk mengabdi, menjalin persaudaraan, atau apa pun. Misalnya, kerjaan tak beres diingatkan sebagai asal-asalan malah sewot, "Merasa ditikam dari belakang." Aneh!

Padahal, koreksi itu justru cambuk agar Anda bisa berlari kencang. Atau, kalaupun dimarahi --lantaran yakin Anda dalam policy koridor kebenaran-- sambutlah dengan rasa terima kasih. Sebab, itu justru membantu ketenangan dan kebijaksanaan Anda, tak usah bete.

Memang, kita cenderung nikmat untuk berilusi. Puas pada diri sendiri. Kita mungkin sadar memasuki api yang menyala, tapi belum menyadari akibatnya. Seringkali kesadaran itu muncul belakangan, setelah langkah terbentur kiri-kanan, setelah kayu berubah arang.

Kita pasti pernah mengalami bahwa marah itu tidak nyaman. Nafsu itu hanya akan membuat napas tersendat di leher, dan badan serasa dilolosi. Tubuh jadi lungkrah, energi terkuras. "Minumlah biar marahmu hilang," kata orang tua.

Orang bijak mampu mengatasi pertentangan antara terang dan gelap, baik dan buruk, kenikmatan dan rasa sakit, penghormatan dan penghinaan, dari dalam diri sendiri. Dia menyadari bahwa hidup yang disebut-sebut sebagai penderitaan --terdengar pesimistis, walau itu realitas-- diubah menjadi sebuah kenikmatan.

Sesungguhnya, kehidupan itu dipenuhi oleh refleksi. Jika bertemu dengan orang yang dipenuhi cinta, maka hati kita pun terefleksikan oleh cinta. Pertemuan dengan orang-orang gelisah hanya melahirkan kegelisahan. Maka, kepada sesama, yang terbaik adalah memberikan cinta, bukan kebencian. Kesucian pikiran itu akan menular --dalam tempo lama atau sepintas.

Monday, November 14, 2005

Tuesday, November 08, 2005

Sebuah Jendela Untuk Melihat Dunia

Coba bayangkan suatu Minggu pagi yang cerah. Matahari bersinar lembut. Udara terasa sejuk. Di kejauhan terdengar burung-burung berkicau riang. Anda tengah merasakan indahnya hari ini. Sambil bersiul-siul kecil Anda membuka pintu rumah Anda. Tampak sebuah kotak berwarna coklat di depan pagar. Ternyata pagi itu Anda mendapat bingkisan. Pengirimnya pun tertera jelas di situ: tetangga sebelah rumah.
Ada apa?
Dengan tergesa-gesa Anda membuka kotak itu. Ternyata isinya sangat mengejutkan Anda: setumpuk kotoran sapi!
Bagaimana perasaan Anda? Anda mungkin bingung, kesal, atau marah. ''Ini sudah keterlaluan!'' pikir Anda. ''Tetangga sebelah itu memang harus diberi pelajaran!'' Lantas apa yang akan Anda lakukan? Anda mungkin langsung melabraknya. Atau paling tidak mempersiapkan ''serangan'' balasan. Nah, kalau Anda jadi melaksanakan niat tersebut, bagaimana respon tetangga Anda? Bisa dibayangkan ''perang'' yang terjadi pada hari berikutnya dapat lebih seru dari perang AS melawan Taliban tempo hari.
Namun Beno, seorang kawan yang mengalami hal ini ternyata memberikan respon yang berbeda. Ia memang terkejut melihat kotoran sapi itu. Tapi kemudian ia berpikir, ''Betapa baiknya tetanggaku ini. Ia benar-benar memperhatikan pekaranganku. Ia tahu persis bahwa rumput dan tanamanku tidak terlalu subur. Karena itu ia menyediakan pupuk untukku. Luar biasa, aku harus ke rumahnya sekedar menyampaikan rasa terima kasihku!''
Pelajaran menarik apa yang dapat diambil dari cerita sederhana tadi? Ternyata kita tidak melihat dunia ini sebagaimana adanya, tetapi sesuai dengan keadaan kita sendiri. We see the world as we are, not as it is. Dengan demikian sebuah peristiwa yang sama dapat dipersepsikan secara berbeda tergantung darimana Anda melihatnya. Bagi kita kotoran sapi dipersepsikan sebagai penghinaan dan ajakan ''berperang.'' Karena itu kita marah dan mempersiapkan serangan balasan.
Sementara Beno menganggap kotoran sapi sebagai hadiah dan bukti perhatian tetangganya. Ia justru berterima kasih. Jadi dimana letak masalahnya? Pada kotoran sapi atau pada cara kita memandang kotoran sapi tersebut? Jelaslah bahwa ''cara kita memandang suatu masalah adalah masalah itu sendiri.''
Dalam bahasa sehari-hari cara kita memandang ini sering disebut dengan berbagai istilah seperti persepsi, asumsi, wawasan, keyakinan, pemikiran, prasangka, prejudis, dan sebagainya. Semua istilah ini terangkum dalam kata paradigma. Paradigma adalah jendela untuk melihat dunia. Saya berani mengatakan bahwa paradigma ini merupakan milik Anda yang terpenting. Mengapa? Karena semua tindakan Anda, apapun tanpa terkecuali, pasti didasari oleh suatu paradigma!
Sekali lagi, coba Anda renungkan baik-baik. Semua tindakan Anda dalam hidup dasarnya adalah paradigma. Bagaimana kita melihat suatu masalah akan menentukan apa yang akan kita lakukan. Apa yang kita lakukan akan menentukan apa yang kita dapatkan. Jadi kalau Anda tidak puas dengan apa yang Anda dapatkan sekarang, Anda harus mengubah perilaku Anda. Namun Anda tak akan dapat mengubah perilaku Anda sebelum membongkar paradigma Anda.

Oleh : Arvan Pradiansyah

Temukan Ketenangan

Coba anda lempar sebutir kerikil ke dalam telaga yang tenang.
Berpusat dari tempat jatuhnya kerikil itu akan tercipta sebuah
riak gelombang yang mengalun ke penjuru telaga.
Kini, bisakah anda menghentikan laju riak gelombang itu?
Mungkin anda mencoba dengan memasukkan telapak tangan anda ke dalam air.
Atau, menghadangnya dengan ke dua belah kaki anda.
Namun yang terjadi adalah semakin banyak anda melakukan sesuatu pada permukaan
telaga, semakin banyak riak gelombang baru bermunculan.
Satu- satunya cara menghentikan laju riak gelombang itu hanyalah dengan membiarkannya berhenti sendiri.
Demikian pula dengan ketenangan dan pikiran.
Semakin keras anda melakukan sesuatu pada pikiran anda, semakin sulit anda
mencapai ketenangan itu.
Amati saja.
Jangan tolak atau menghentikan riak pikiran anda.
Biarkan pikiran berangsur- angsur tenang.
Ketenangan diri dimulai dari ketenangan pikiran;
sedangkan ketenangan pikiran bermula dari ketenangan bernafas.
Dalam nafas yang tenang temukan jiwa yang tenang.

Wanita Bagi Pahlawan

Dibalik setiap pahlawan besar selalu ada seorang wanita agung. Begitu kata pepatah Arab. Wanita agung itu biasanya satu dari dua, atau dua-duanya sekaligus; sang ibu atau sang istri.
Pepatah itu merupakan hikmah psiko-sejarah yang menjelaskan sebagian dari latar belakang kebesaran seorang pahlawan. Bahwa karya-karya besar seorang pahlawan lahir ketika seluruh energi didalam dirinya bersinergi dengan momentum diluar dirinya; tumpah ruah bagai banjir besar yang tidak terbendung. Dan tiba-tiba sebuah sosok telah hadir dalam ruang sejarah dengan tenang dan ajek.
Apa yang telah dijelaskan oleh hikmah psiko-sejarah itu adalah sumber energi bagi para pahlawan; wanita adalah salah satunya. Wanita bagi banyak pahlawan adalah penyangga spiritual, sandaran emosional; dari sana mereka mendapat ketenangan dan kegairahan, kenyamanan dan keberanian, keamanan dan kekuatan. Laki-laki menumpahkan energi di luar rumah, dan mengumpulkannya lagi didalam rumahnya.
Kekuatan besar yang dimiliki para wanita yang mendampingi para pahlawan adalah kelembutan, kesetiaan, cinta dan kasih sayang. Kekuatan itu sering dilukiskan seperti dermaga tempat kita menambatkan kapal, atau pohon rindang tempat sang musafir berteduh. Tapi kekuatan emosi itu sesungguhnya merupakan padang jiwa yang luas dan nyaman, tempat kita menumpahkan sisi kepolosan dan kekanakan kita, tempat kita bermain dengan lugu dan riang, saat kita melepaskan kelemahan-kelemahan kita dengan aman, saat kita merasa bukan siapa-siapa, saat kita menjadi bocah besar. Karena di tempat dan saat seperti itulah para pahlawan kita menyedot energi jiwa mereka.
Itu sebabnya Ulama Umar bin Khattab mengatakan, "Jadilah engkau bocah di depan istrimu, tapi berubahlah menjadi lelaki perkasa ketika keadaan memanggilmu'. Kekanakan dan keperkasaan, kepolosan dan kematangan, saat lemah dan saat berani, saat bermain dan saat berkarya, adalah ambivalensi-ambivalensi kejiwaan yang justru berguna menciptakan keseimbangan emosional dalam diri para pahlawan.
"Saya selamanya ingin menjadi bocah besar yang polos." kata Sayyid Quthub. Para pahlawan selalu mengenang saat-saat indah ketika ia berada dalam pangkuan ibunya, dan selamanya ingin begitu ketika terbaring dalam pangkuan istrinya.
Siapakah yang pertama kali ditemui Nabi Muhammad SAW setelah menerima wahyu pertama dan merasakan ketakutan luar biasa? Khadijah! Maka ketika Rasulullah ditawari untuk menikah setelah Khadijah wafat, beliau mengatakan; "Dan siapakah wanita yang sanggup menggantikan peran Khadijah?"
Itulah keajaiban dari kesederhanaan. Kesederhanaan yang sebenarnya adalah keagungan; kelembutan, kesetiaan, cinta an kasih sayang. Itulah keajaiban wanita.

M. Anis Matta, Lc Direktur Al-Manar Jakarta (Diambil dari buku "Mencari Pahlawan Indonesia")

Yang Paling Bertanggung Jawab

Kalau Anda ingin menyalahkan orang yang paling bertanggung jawab atas kegagalan Anda dalam hidup, maka Anda bisa mulai dengan menyalahkan diri sendiri? Kenapa demikian?
Karena Andalah sendiri yang mengambil keputusan untuk gagal. Bukan atasan Anda yang galak. Bukan anak buah Anda yang susah diatur. Bukan istri Anda yang tidak sejalan. Bukan suami Anda yang tidak pengertian. Bukan teman di kantor yang menggosipkan Anda. Tetapi karena Anda sendirilah yang memutuskan, mengambil keputusan dengan penuh kesadaran, untuk gagal.
Seorang pesenam dari Jepang meraih medali emas impiannya setelah menari dengan indah di Olympiade. Padahal hari sebelumnya, tumitnya retak dan dokter mengatakan di akan cacat seumur hidupnya. Rasa sakit dikalahkan oleh kemauan yang kuat untuk mempersembahkan medali emas bagi negaranya.
Sepasang mahasiswa drop-out memulai sebuah perusahaan software kecil-kecilan yang sama sekali tidak diperhitungkan akan menjadi besar. Kini Bill Gates dan Tim Allen merupakan dua orang legenda software dunia, padahal hanya berijazahkan high school (SMA).
Seorang veteran perang dunia pertama menawarkan resep masakan keluarganya kepada lebih dari seribu orang yang dinilainya dapat memberinya modal usaha mengembangkan restoran. Seribu orang itu menolaknya. Tapi ia tidak menyerah. Bayangkan bila saat itu Kolonel Sanders memutuskan berhenti pada penolakan yang ke 999, hari ini kita tidak akan mengenal Kentucky Fried Chicken.
Ketika percobaan lampunya yang ke-sekian ratus gagal, Thomas Alfa Edison berkata pada seorang wartawan, "Saya tidak gagal! Bahkan saya baru saja berhasil menemukan cara ke 879 untuk tidak membuat lampu!"
Pantang menyerah.
Sukses Anda, bukan nasib. Sukses adalah sesuatu yang hanya dapat dicapai dengan harta, keringat, air mata dan kadang juga darah. Pada prinsipnya, tidak ada orang yang gagal. Yang ada hanya orang yang "memutuskan untuk berhenti" sebelum mencapai sukses.

Yang Datang Pasti Akan Pergi

Apa pun yang kita kumpulkan, cepat atau lambat, pasti akan pergi.
Harta yang kita simpan; kehormatan yang kita perjuangkan; dan semua yang diaku sebagai milik sendiri selalu mencari jalan keluar dari genggaman kita.
Ibaratnya, arus sungai yang rindu akan lautnya.
Sekuat apapun bendungan menghadang, air akan menemukan celah untuk meneruskan
tetesannya.
Atau, angin akan mengangkat mereka ke awan-awan tebal dan menjatuhkannya ke atas samudera.
Apa pun yang terjadi, semua itu akan pergi.
Jika toh mereka tak meninggalkan kita, suatu saat kitalah yang akan meninggalkan mereka. Kita akan meninggalkan semua itu.
Karenanya, jangan terburu mengaku beruntung atas segunung harta
atau selangit kehormatan yang kita raih.
Di saat semua itu pergi, tak selalu pantas kita meratapinya sebagai kemalangan.
Maka, tak ada yang lebih baik selain selalu bersiap melepaskan.
Bagi bendungan, tekanan arus air adalah beban berat.
Bagi kita, tumpukan harta tak kalah beratnya.
Maka, bila ia harus pergi, relakan kepergiannya.
Ini membuat hati jauh lebih lapang dan ringan.

Tuesday, November 01, 2005

Kejujuran

Kejujuran, betapa langkanya kata ini!
Mencari orang yang jujur saat ini hampir sama mustahilnya dengan mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Jujur bukanlah semata-mata tidak berkata dusta.

Ketika Nabi bersabda,"katakanlah kebenaran itu walaupun pahit", sebenarnya Nabi memerintahkan kita untuk berlaku jujur dengan lidah kita. Ketika Nabi bersabda, "andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya," sesungguhnya Nabi mengajarkan kita untuk bertindak jujur dalam penegakkan hukum meskipun terhadap keluarga sendiri. Ketika Al-Qur'an merekam kalimat suci,"sampaikanlah amanat kepada yang berhak," sesungguhnya Allah menyuruh kita bersikap jujur ketika memegang amanah, baik selaku dosen, pejabat, ataupun pengusaha. Sewaktu Allah menghancurkan harta si Karun karena Karun bersikukuh bahwa harta itu diraihnya karena kerja kerasnya semata, bukan karena anugerah Allah, sebenarnya Allah sedang memberi peringatan kepada kita bahwa itulah azab Allah terhadap mereka yang tidak berlaku jujur akanrahmat Allah.
Tengoklah diri kita sekarang....Masihkah tersedia kejujuran didalam segala tindak tanduk kita? Ketika anda terima uang sogokan sebenarnya anda telah berlaku tidak jujur. Ketika anda enggan menolong rekan anda, meskipun anda sadar anda mampu menolongnya, saat itu anda telah menodai kejujuran. Ketika di sebuah pengajian anda ditanya jama'ah sebuah pertanyaan yang sulit, dan anda tahu bahwa anda tak mampu menjawabnya, tapi anda jawab juga dengan "putar sana-sini", maka anda telah melanggar sebuah kejujuran (orang kini menyebutnya "kejujuran ilmiah").
Adakah orang jujur saat ini?
Bahkan Yudhistira yang dalam kisah Mahabharata terkenal jujur pun sempat berbohong dihadapan Resi Durna saat perang Bharata Yudha. Dewa dalam kisah tersebut menghukum Yudhistira dengan membenamkan roda keretanya ke dalam tanah beberapa senti. Anda boleh tak percaya cerita Mahabharata ini, tapi jangan bilang bahwa anda meragukan Allah mampu menghukum kita akibat ketidakjujuran kita dengan lebih dahsyat lagi. Kalau Dewa mampu menghukumYudhistira seperti itu, jangan-jangan Allah akan membenamkan seluruh yang kita banggakan ke dalam tanah hanya dalam kejapan mata saja.
Guru saya pernah bercerita ketika ada orang yg baru masuk Islam bertanya kepada Rasul bahwa ia belum mampu untuk mengikuti gerakan sholat dan kewajiban lainnya, konon, Rasul hanya memintanya untuk berlaku jujur. Ketika ada seorang warga negaraInggris yang masuk Islam, dan belum bisa sholat serta puasa, saya minta dia untuk berlaku jujur saja dahulu. Orang asing itu terperanjat. Boleh jadi dia kaget bahwa betapa Islam memandang tinggi nilai kejujuran. Kini, saya yang terperanjat dan terkaget-kaget menyaksikan perilaku kita semua yang sudah bisa sholat dan puasa namun tidak mampu berlaku jujur.
Duh Gusti....betapa jauh perilaku kami dari contoh yang diberikanNabi-Mu...

Mengalahkan Diri Sendiri

Dalam hidup ini, bahagia tidaknya kita, kita sendiri yang akan menentukan.
Hanya karena kebodohan, kita dibayangi oleh rasa kekhawatiran dan rasa takut yang sebenarnya tidak perlu ada.
Berhati lurus adalah menjaga hati dan pikiran agar tidak mudah
goyah oleh godaan.
Bagi yang berkepribadian lemah dan berjiwa rapuh akan mudah tergoda pada kesenangan duniawi.
Mata kita hanya melihat benda-benda yang indah, telinga kita hanya akan
mendengar suara yang merdu, dan lidah hanya mau mencicipi
makanan yang lezat.
Tubuh menjadi manja, dan pikiran mengembara ke mana-mana tanpa dapat dikendalikan.
Orang bijak mengatakan bahwa perang yang tidak ada habisnya
adalah perang melawan diri sendiri.
Musuh yang paling sulit ditaklukkan adalah diri sendiri.
Hati yang bercabang ibarat kuda yang lepas dari kendali.
Karena itu kita harus menjaga keseimbangan hati dan pikiran
kita. Hindari pikiran yang menyesatkan, karena nantinya akan
menimbulkan malapetaka bagi diri sendiri.
Bila kita ingin menuai benih kebahagiaan, taburlah benih
kebaikan. Kita mulai dengan menanam bibit-bibit kebaikan,
mencabut rumput-rumput ketamakan, kebencian, iri hati,
mengairinya dengan ketabahan dan kemurahan hati, serta
menyuburkannya dengan memberi pupuk perilaku yang berbudi.
Dengan begitu, sudah sepantasnya kita menikmati hasil panen
yang memuaskan.

Menikmati Kesulitan

Kekuatan tidak didapat dari leha-leha dan pekerjaan gampangan.
Anda bisa menanyakannya kepada para olahragawan, atlet binaraga misalnya.
Segalanya datang dari kesulitan dan tantangan.
Para atlet binaraga tahu bahwa mereka harus menempa semua otot mereka
agar bertumbuh.
Dan sama dengan hal itu, karakter anda akan ditempa dengan kesulitan yang anda temui.
Tanpa kesulitan, kita tidak akan mengenal kenikmatan, apalagi menikmatinya.
Kesulitan dalam hidup, hanyalah demi anda lebih mengenali kenikmatan hidup.
Setiap rintangan yang berhasil diatasi, akan membuat anda menjadi lebih kuat.
Setiap tantangan yang anda lewati, menghasilkan kegembiraan yang lebih sempurna.
Tantangan memberi kita tugas untuk dikerjakan.
Bayangkan betapa keringnya hidup bila segala sesuatu muncul begitu saja saat
anda inginkan.
Hargailah masa susah, karena masa itu berlimpah kesempatan.
Bangkitlah menghadapi tantangan pahit, dan hidup anda akan terasa manis.

Menikmati Pekerjaan

Sudah terlalu banyak orang yang mengeluh betapa pekerjaan
mereka sungguh tak menyenangkan. Memang pekerjaan yang
diangankan tidak selalu bisa diraih.
Namun menikmati suatu pekerjaan bukan soal apakah anda mengangankan pekerjaan itu
atau tidak.
Menikmati adalah bagaimana anda menghargai diri anda sendiri.
Semakin anda mampu menghargai bahwa anda bisa
mengerjakannya lebih baik, semakin anda penuh menikmati apa
yang anda kerjakan. Maka kerjakan segala sesuatunya lebih
baik. Ini bukan hanya memberikan lebih banyak keberhasilan.
Tetapi juga memberikan lebih banyak hal yang bisa anda
nikmati. Dan hidup anda pun jauh lebih menyenangkan.

Anak-anak kecil yang bermain di pantai tahu bagaimana
menikmati apa yang mereka kerjakan. Membangun istana pasir
boleh jadi adalah kegiatan yang paling menjengkelkan.
Itu bila anda menganggap ombak laut selalu menghancurkan
istana megah yang baru saja dibentuk.

Namun, bila anda menganggap ombak sebagai bagian dari permainan ini, maka
tiada alasan bagi anda untuk tidak membangun istana pasir
yang jauh lebih megah. Menikmati pekerjaan adalah memahami
setiap hal sebagai bagian dari permainan. Dan, bukankah
sesungguhnya semua ini hanyalah permainan?

Motivasi Diri

Adalah keliru menuntut orang lain memotivasi anda. Tak seorang
pun bertanggung jawab atas timbul tenggelamnya motivasi itu
di dalam diri anda, melainkan anda sendiri. Pidato pemimpin
yang menggebu-gebu, program pelatihan yang menggairahkan atau
pernyataan visi yang penuh kalimat indah, semua itu hanya usaha
mengetuk pintu motivasi diri anda. Bila anda tak berkenan
membukanya, gedoran sekeras apa pun takkan berguna. Karena anda
bertanggung jawab atas perjalanan karier dan hidup anda, maka
bangunlah, bangunkan diri anda sendiri.
Anda pun tak bertanggung jawab pada naik turunnya motivasi
orang lain. Karena anda tak selalu tahu apa harapan mereka.
Motivasi selalu bertalian dengan harapan. Sediakan tempat bagi
mereka untuk memenuhi harapan bersama; antara anda dan mereka.
Kemudian bekerjalah bahu-membahu untuk mewujudkannya. Motivasi
selalu muncul dari kegembiraan. Sedangkan kegembiraan
ditemukan dalam kerja bersama.

Mulailah Memberi

Bila tak seorang pun berbelas kasih pada kesulitan anda.
Atau, tak ada yang mau merayakan keberhasilan anda.
Atau tak seorang pun bersedia mendengarkan, memandang,
memperhatikan apa pun pada diri anda.
Jangan masukkan ke dalam hati.
Manusia selalu disibukkan oleh urusannya sendiri.
Manusia kebanyakan mendahulukan kepentingannya sendiri.
Anda tak perlu memasukkan itu ke dalam hati.
Karena hanya akan menyesakkan dan membebani langkah anda.
Ringankan hidup anda dengan memberi pada orang lain.
Semakin banyak anda memberi semakin mudah anda memikul
hidup ini.
Berdirilah di depan jendela.
Pandanglah keluar.
Tanyakan pada diri sendiri, apa yang bisa anda berikan
pada dunia ini.
Pasti ada alasan kuat mengapa anda hadir di sini.
Bukan untuk merengek atau meminta dunia menyanjung anda.
Keberadaan anda bukan untuk kesia-siaan.
Bahkan seekor cacing pun dihidupkan untuk menggemburkan tanah.
Dan, sebongkah batu dipadatkan untuk menahan gunung.
Alangkah hebatnya anda dengan segala kekuatan yang tak dimiliki
siapapun untuk mengubah dunia.
Itu hanya terwujud bila anda mau memberikannya.

Orang Penting

Istilah orang penting terlalu sering digambarkan dengan
politisi yang berkuasa, bos konglomerat, atlit berprestasi,
artis ternama, atau semua yang kita golongkan selebritis.
Kenyataannya, setiap orang adalah orang penting. Setiap
kehidupan adalah penting. Tidak ada yang lebih penting dari
yang lain. Anda sama pentingnya dengan wajah-wajah yang
bermunculan di layar TV atau sampul majalah. Demikian juga
pentingnya orang-orang di sekitar anda.
Setiap orang memiliki sesuatu yang bisa disumbangkan pada
kehidupan. Setiap orang bisa membuat perbedaan bernilai
positif. Setiap orang memiliki hal yang khas di dunia ini.
Dan setiap orang memerlukan hidupnya semakin bernilai.
Itu yang membuat setiap orang menjadi penting.
Tentu ada orang yang berhasil menjadi sumber inspirasi
orang lain, yang mampu memimpin orang lain, yang mau
melayani orang lain, yang mengajari orang lain. Mereka
juga tidak lebih penting dari orang lain. Tetapi mereka
melakukan itu karena dimulai dengan kesadaran bahwa hidup
mereka penting, dan menjadi lebih penting lagi saat mereka
memerlukan orang lain.
Orang-orang penting ada di sekitar anda. Mereka memiliki
potensi luar biasa, sama seperti anda. Kenali dan hargai
potensi yang ada pada mereka, dan diri anda. Sertai dengan
tindak lanjut. Jadikan mereka orang penting, dan anda pun
akan dianggap orang penting.

Hati

Hati adalah tempat bertanya. Hati adalah cermin. Apa yang kita lakukan terus-menerus akan berpengaruh dan berbekas pada hati. Hal-hal terpuji akan membuat hati mengkilap dan cemerlang. Sementara hal-hal tercela akan membentuk asap hitam kelam yang menumpuk sedikit demi sedikit dan membuat hati menjadi gelap-gulita.
Lama-lama hati yang gelap akan menebal dan terkunci. Ini menghalangi kita melihat kebenaran. Karena itu kita perlu membersihkan hati kita dari benih-benih penyakit hati. Ada tiga penyakit yang paling sering menghinggapi hati kita. Ini juga adalah tiga dosa paling awal sejak keberadaan manusia.
Pertama, sombong dan arogan. Ini adalah penyakit iblis yang menolak ketika diperintahkan bersujud pada Adam.
Akar dari sombong adalah kebiasaan membanding-bandingkan diri kita (comparing) dengan orang lain. Membanding-bandingkan akan membuat kita terombang-ambing. Kita merasa super kalau berhadapan dengan orang yang ada di bawah kita, tapi ironisnya kita akan merasa rendah diri di saat yang sebaliknya. Padahal satu-satunya perbandingan yang baik adalah membandingkan diri Anda terhadap potensi Anda sendiri.
Kedua, serakah. Ini penyakit Adam yang tetap memakan pohon yang dilarang Tuhan. Padahal ada berjuta-juta pohon yang disediakan dan hanya satu pohon itu yang dilarang.
Akar serakah adalah scarcity mentality (mentalitas kelangkaan), yaitu perasaan bahwa segala sesuatu sangat terbatas, sehingga berprinsip 'Saya akan mengambil bagian saya dulu sebelum kehabisan.'
Orang serakah menganggap dunia seperti sepotong kue. ''Kalau Anda mendapatkan potongan besar, sisanya tinggal sedikit untuk saya.'' Karena itu, saya akan mengambilnya dulu. Semua persoalan yang kita hadapi di negara ini, baik KKN, upah minimum yang tak cukup untuk hidup layak, atau persoalan tarik-ulur otonomi daerah, sebenarnya berakar dari keserakahan, yaitu keinginan menguasai dan tiadanya keinginan untuk berbagi dengan pihak lain.
Ketiga, penyakit iri dan dengki. Ini penyakitnya Qabil yang merasa iri terhadap Habil yang mendapatkan istri lebih cantik. Akar penyakit ini adalah kecenderungan kita untuk selalu bersaing (competing) dengan orang lain. Kita memandang dunia sebagai medan pertempuran. Kita memandang setiap orang sebagai pesaing kita. Karena itu kita berjuang mengalahkan mereka. Kita ingin lebih pandai, lebih hebat, dan lebih populer. Kita berduka melihat orang lain sukses. Kita sedih melihat kawan naik pangkat. Kita pusing melihat tetangga membeli mobil baru. Orang yang bermental seperti ini tak perduli dengan prestasinya sendiri. Yang penting, ia lebih tinggi dari orang lain.
Bangsa kita dipenuhi manusia-manusia yang mengidap penyakit ini.
Jangan lupa, kepemimpinan selalu dimulai dari diri sendiri. Karena itu, mulailah melakukan perjalanan ke dalam. Yaitu, menyelami hati kita masing-masing dan mendeteksi adanya benih-benih penyakit ini dihati.

Pikiran Kita

Perhatikan sekeliling anda. Rumah anda, mobil anda, komputer
di depan anda, telepon, kulkas, jam, buku, dan lain sebagainya.
Segalanya berasal dari pikiran manusia. Coba perhatikan,
sedemikian banyak hal dapat dikerjakan oleh pikiran.
Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa manusia normal cuma mengguna kan kurang dari lima persen kapasitas otaknya. Dan banyak dari kita sudah puas dengan sebegitu. Bayangkan apa yang dapat dicapai bila kita berani menggunakan lebih.
Pada kenyataannya, pikiran tidak memiliki batas. Anda tidak perlu uang, ruang khusus, steker listrik, ataupun batere
untuk berpikir. Anda bukan robot. Anda dapat memikirkan hal yang paling besar, hal yang paling rumit, bahkan sambil mandi
ataupun sikat gigi. Sebagaimana otot kita, pikiran akan semakin
kuat bila semakin sering digunakan, semakin pikiran tertantang,
semakin besar yang bisa ia kerjakan.
Kita hidup di dunia di mana uang dicetak dari ide dan pikiran. Pikiran anda dapat "membeli" dan "membawa" apapun yang anda perlukan. Gunakan pikiran anda, dan ia akan bekerja untuk anda.

Antusias

Hiduplah dengan penuh antusiasme. Hadapi sesuatu dengan
hasrat untuk terpesona. Dunia ini sudah begitu menakjubkan.
Jangan biarkan anda menyia-nyiakan pandangan untuk mereguk
rasa kagum. Yang anda perlukan adalah responsi yang spontan.
Ada baiknya anda sedikit mengurangi pertimbangan dan
penilaian anda mengenai positif atau negatif. Sikap antusias
hanya membutuhkan dan hanya melihat sisi positif dari segala
sesuatu.
Ini bukan masalah agar anda tampak bersemangat dan ceria
dalam menjalani jalur keberhasilan anda. Namun, ini akan
meringankan anda dari hal-hal yang mengkhawatirkan. Tak
ada gunanya melihat dan mencemaskan sisi negatif. Pikiran
anda terlalu jernih untuk dibebani dengan prasangka-
prasangka. Kini, biarkan rasa kagum dan imajinasi memenuhi
benak anda.

Sahabat

Sahabat.....
Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang
melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang
membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.
Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan,
tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu
bahkan bertumbuh bersama karenanya..…

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan
proses yang panjang seperti besi menajamkan besi,
demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.
Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka
dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan,

dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.
Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan
untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya
ia memberanikan diri menegur apa adanya.
Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman,
tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan
tujuan sahabatnya mau berubah.
Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan pemeliharaan dari kesetiaan.
Kerinduannya adalah bagian dari kehidupan
sahabatnya, tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.

Jadikan Hidup Bermanfaat

Kalau kita mencoba untuk merenung sejenak dan melupakan semua kesibukan sehari-hari
maka kita akan menyadari bahwa manusia
jaman sekarang ini paling lama umurnya 80 tahun. Itupun sudah
termasuk panjang umur.
Tetapi kita sering lupa akan hal ini sehingga kita mati-matian
mengejar uang, harta, jabatan dan mengabaikan hati nurani kita.
Kita menginjak dan menghina orang yang tidak seberuntung kita
dan kita menjilat serta mencari muka terhadap orang kaya dan
berpangkat.
Kita menilai orang dari mobil, rumah, harta, atau jabatannya
dan bukan pada pribadi seseorang. Ini yang membuat kita menjadi
orang yang egois, serakah, sombong, materialis dan membutakan
hati nurani kita sendiri.
Masing-masing orang bersaing untuk saling melebihi dan pamer
kekayaan, pamer rumah, pamer mobil, dan lain-lain. Padahal itu
semua hanya membuat orang yang tidak seberuntung kita menjadi
panas hati dan iri hati.
Untuk itu kita harus sadar dan ingat bahwa hidup ini tidak
semata-mata mengejar uang, harta, jabatan, tapi yang utama
hidup ini harus kita isi dengan perbuatan-perbuatan yang
berguna dan bermanfaat baik bagi diri kita sendiri maupun
bagi orang lain.
Itu semua membuat kita merasa puas, bahagia, rendah hati dan
mempunyai empati terhadap orang yang tidak seberuntung kita.
Rejeki kita tidak akan habis, malahan rejeki kita akan lancar
dan tidak terputus bila kita mau membagi sebagian dari rejeki
kita untuk orang-orang yang memang benar-benar membutuhkan bantuan kita.
Marilah hidup ini kita isi dengan perbuatan-perbuatan yang
berguna dan bermanfaat baik bagi diri kita sendiri maupun bagi
orang lain.

Karakter Positif

Karakter positif adalah karakter dimana ditunjukkan dalam sikap pantang
menyerah dan selalu menghadapi segala sesuatu dengan sikap, pandangan
dan respon positif pula. Syarat mutlak bagi tercapainya keberhasilan ! Bangun
karakter positif anda dengan beberapa cara dibawah ini :
1. Sadari dalam diri anda bahwa karakter positif akan membangun diri anda
dari dalam.
2. Menahan diri dari tidak reaktif jika menghadapi hal yang kurang
menyenangkan, berfikir tenang dan sabar.
3. Ambil makna positif disetiap peristiwa yang anda alami.
4. Belajar menerima kenyataan yang tidak menyenangkan sebagai fakta yang
selalu terjadi.
5. Mendekatkan diri kepada tuhan, aktifitas dan kegiatan sehari- hari
harus dimulai dengan doa dan ditutup dengan doa pula.
6. Hindari kebiasaan memojokkan dan menilai orang lain dari
kekurangannya, sekalipun anda sedang bercanda / bermain.
7. Banyaklah bergaul dengan orang-orang yang memiliki karakter positif
agar andapun cenderung berfikiran positif dan optimis.

Dengan karakter positif:
1. Jiwa anda selalu damai, tidak terbebani dengan kesedihan, frustasi,
kebencian, kemarahan dan rendah diri.
2. Anda bisa mencari alternatif jalan keluar yang terbaik atas peristiwa
yang anda alami.
3. Anda tidak mudah menyalahkan orang lain sebagai biang permasalahan.
4. Hubungan interpersonal tidak tertanggu karena anda cenderung
menghindari sikap bermusuhan dengan pihak lain.
5. Anda lebih terbuka terhadap semua peristiwa baik peristiwa
menyenangkan maupun tidak.

Waktu

Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan.
Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi.
Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan.
Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan.
Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak
istimewa yang diberikan Tuhan.
Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan.
Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati.
Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasaberarti.
Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan.
Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju surga.

Monday, October 31, 2005

Ya Tuhan Kami...

Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami..

Ya Tuhan Kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak sanggup memikulnya, beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami, Engkaulah penolong kami..

Menjelang Hari Kemenangan

Saat mentari tenggelam diujung ramadhan...
Berdegup semangat meraih kemenangan...
Seiring ayun menggapai hari esok...
Kumantapkan niat memulai langkah awalku...
(Penghujung Ramadhan 1426 H)